sekedar mendokumentasikan apa yang perlu didokumentasikan

Skema Ponzi dalam Sistem Demokrasi

In Opini, Refleksi on February 7, 2011 at 3:16 am

Charles Ponzi sudah lama mati. Namun namanya abadi sebagai bentuk kejahatan krah putih. Mungkin inilah satu satunya penjahat yang selalu namanya dilekatkan dengan pelaku tindak kriminal. Apa kelebihan Ponzi hingga begitu hebat namanya dikenang sepanjang masa. Dia hanyalah imigran Amerika. Tidak pernah lulus universitas. Tapi dia punya nyali dan tentu obsesi. Kreativitas adalah jantung dari skema ponzi dan ini sesuai dengan sejarah hidup Ponzi yang memang kreatif. Lahirnya kreatifitas ini bukanlah karena keilmuan tapi lebih kepada kecerdasan melihat situasi yang hidup ditengah masyarakat. Ponzi menawarkan masa depan dengan imbalan yang tinggi atau diatas akal sehat. Dengan syarat orang harus membayar hari kini. Tidak keuntungan sesungguhnya dari investasi ini. Karena Ponzi tidak menciptakan produk real untuk dijual. Dia menjual ilusi dan karenanya dia membangun ilusi lewat skema.

Skema Ponzi sederhana saja. Ibarat ember yang diikat tali dan diisi penuh air. Dengan menggunakan tali, kita putar ember yang berisi air itu. Selama putaran itu kencang dan tidak berhenti, air diember tidak akan tumpah. Begitulah Ponzi. Selagi anggota terus berdatangan , maka skema ponzi tidak akan hancur. Karena orang pertama masuk memakan yang kedua dan ketiga. Yang kedua ketiga masuk memakan yang keempat dan kelima. Begitu seterusnya. Cara ini tergolong konvensional dan sampai kini masih banyak diterapkan walau dikemas dalam berbagai produk seperti emas, obat suplemen, forex dan lain sebagainya. Dalam bidang investasi yang lebih canggih, dikenal apa yang disebut dengan derivative transaksi. Berawal dari satu transaksi dan akhirnya berkembang menjadi 10 transaksil dan dari 10 transaksi berkembang menjadi100 transaksi dan begitu seterusnya.

Sebetulnya istilah Ponzi tidak hanya terjadi dalam dunia investasi , juga terjadi pada skema perusahaan yang masuk bursa. Juga terjadi pada pemerintahan yang menganut sistem demokrasi. Baik perusahaan, agen investasi, pemerintahan demokrasi punya kesamaan ekosistem yaitu hidup dari kebodohan dan ketamakan orang banyak. Hidup dari promosi dan propaganda. Hidup dari menjual data dan janji. Hidup dari produk/program illusi. Mereka yang terlibat dalam mendukung skema ponzi ini, entah itu karyawan, agent, mitra, yang jumlahnya tak sedikit telah menjadi kelompok minoritas yang kuat sebagai middle class ditengah mayoritas masyarakat kalah dan lelah. Mereka mendorong terjadinya indek konsumsi dan juga indek pertumbuhan ekonomi makro.

 

Pada perusahaan Publik, setiap awal tahun para direksi membuat laporan keuangan. Selalu mempunyai alasan yang kuat bila terjadi penurunan trend pendapatan dan lengkap dengan solusinya untuk meningkatkan pendapatan ditahun berikutnya. Solusi inilah yang dikampanyekan oleh para direksi agar pemegang saham Publik tetap percaya dan harga saham tetap tinggi. Ketika dipercaya oleh pemegang saham dan stake holder ( Kreditur dan otoritas) maka direksi akan melancarkan program investasi baru lewat right issue, penerbitan obligasi, REPO.. Keadaan ini akan terus berlangsung dan pada akhirnya direksi hanya berpikir bagaimana menarik dana dari publik dan stake holder. Tidak lagi memikirkan bagaimana kualitas neraca meningkatkan value asset real. Tidak lagi memikirkan bagaimana perusahaan mendatangkan laba untuk memberikan deviden real kepada pemegang saham. Sementara pemegang saham dapatkan gain dari ilusi yang dibangun dan menjualnya kepada pemegang saham baru.

 

Pemerintah dalam sistem demokrasi juga adalah skema Ponzy terbaik. Semua penguasa tadinya bicara kepada rakyat tentang segala hal yang menjanjikan tentang kemakmuran dan kesejahteraan melalui peningkatan pendapatan, perluasan lapangan kerja, penegakan hukum demi keadilan. Jargon nasionalisme dan pembelaan orang tertindas menjadi marcusuar untuk orang banyak percaya. Tapi setelah berkuasa, setiap akhir tahun mereka bicara tentang prestasi yang dicapai. Mirip cara ponzi, dengan mengangkat data yang ruwet sehingga orang malas berpikir itu benar atau salah. Yang pasti pemerintah hanya berpikir soal hari ini, bagaimana mendongkrak makro ekonomi untuk mudah dijarah. Tak lagi berpikir soal mikro ekonomi. Kelak, bila akhir masa pemerintahan, penguasa akan bicara tentang solusi dengan segudang kata kata magic world untuk berharap dipilih kembali. Kalau tidak kepilih maka penguasa berikutnya yang akan membayar lewat janji pula. Begitu seterusnya. Yang korban tetaplah rakyat bodoh yang percaya.

 

Masyarakat yang hidup dalam sistem demokrasi memang dikepung oleh sistem ponzy itu sendiri dengan berbagai institusi yang dilegitimate untuk membuat masyarakat pasrah menjadi korban penipuan. Baik perusahaan investasi, Perusahaan Publik, Pemerintah, semua hidup mewah dari hasrat orang banyak dan mengorbankan orang banyak. Bagaimanapun ini adalah tindakan kriminal dan amoral. Ini kejahatan yang berdiri diatas konsesus gerombolan kriminal yang berdasi dan berilmu. Yang beroperasi berdasarkan sistem yang terpadu dan legitimate. Mendobraknya akan menimbulkan efek sistemik.. Bila perlu orang ramai harus rela mem bail out ( APBN ) kesalahan sistem ini. Pak Harto jatuh, tapi Golkar tetap exist dan birokrasi tetap gagah dengan meluncurkan Oblgiasi Rekap membail out moneter yang salah urus, bahkan mantan birokrat bisa jadi peminpin dan anggota DPR. Padahal mereka tadinya ikut menikmati skema ponzi kekuasaan itu.

 

Hanya soal waktu sistem ini akan hancur. Sejarah akan mencatat itu. Asalkan ada kemauan dari masyarakat untuk berubah. Karena kejahatan seperti itu tidak datang dengan sendiri. Dia datang lewat proses panjang yang bersumber dari budaya sakit ditengah masyrakat. Budaya individualis, Budaya menang kalah, Budaya too good to be true, yang disebabkan oleh bangkrutnya spiritual ditengah masyarakat. Ini sudah menjadi wabah dunia dan menimbulkan paradox. Mengatasi ini harus melalui pendekatan perubahan mindset. Harus ada transformasi menjadi masyarakat madanin yang agamais. Ya masyarakat yang kuat, yang tahu melakukan koreksi secara sistematis dan sadar bahwa kejahatan terbesar bukanlah dilakukan oleh pelakunya, tetapi oleh kita yang mendiamkan kejahatan itu terjadi.

[]

Sumber: http://culas.blogspot.com/2011/01/ponzi.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s