sekedar mendokumentasikan apa yang perlu didokumentasikan

Pelacur

In Berita, Opini on September 21, 2010 at 3:41 am

Yunani bukan cuma negeri para filsuf, tapi juga negeri dengan jumlah pelacur yang berlimpah.

Pada masa jayanya, tulis Nikolaos Vrissimtiz dalam “Love, Sex and Merriage in Ancient Greece”, tak ada kota yang jumlah pelacurnya sebanyak Athena. Salah satu titik yang banyak ditinggali para pelacur adalah Pireaus, kota pelabuhan di Athena, di mana banyak kapal datang dari berbagai tempat datang untuk berlabuh.

Awal mula berkembangnya lokalisasi di Athena diperkirakan berlangsung pada abad 6 Sebelum Masehi, terutama setelah berdirinya lokalisasi legal pertama di Athena. Pendirinya adalah SOlon. Dialah germo pertama dalam sejarah Yunani.

Pada masa itu, sebutan untuk pelacur adalah “porne”, ditakik dari kata “pernemi” yang berarti “menjual” –karena mereka memang untuk dijual. Hingga taraf tertentu mereka dilindungi oleh polis. Secara rutin, polis menarik pajak dari mereka. Pelacur yang bekerja di lokalisasi legal maka pajaknya dibayarkan oleh germo. Sementara pelacur partikelir membayar pajaknya sendiri. Kadang-kadang, layaknya Bulog di sini, polis juga melakukan operasi pasar untuk mengntrol tarif mereka. Bahkan, ada sebutan khusus untuk pajak para pelacur ini: “pornikon telos”.

Ada beberapa jenis pelacur. Mereka yang mangkal di lingkungan lokalisasi legal disebut “katakleistae” (artinya: menetap). Mereka yang nongkrong di dekat jembatan atau pemandian umum dipanggil “gephyridae”. Sementara mereka yang mangkal di luaran disebut “chamaitypae” (berasal dari kata “chamai typo” yang berarti merebahkan diri). Lain lagi dengan para pelacur yang berjalan menjajakan diri laiknya pedagang keliling. Mereka dipanggil “perepatikae” (pengembara).

Dari semuanya, “hetaire” berada di posisi yang tertinggi. Inilah pelacur kelas atas yang mungkin bisa dibandingkan dengan geisha dalam tradisi Jepang. Layaknya geisha, mereka tak cukup hanya bisa ngangkang, melainkan harus bisa menari, memainkan beberapa alat musik (flute, tamborin, kastanet hingga lyre’).

Hetaire biasa beredar dalam symposia-symposia yang melibatkan para sosialita zaman itu. Sysmposia biasa diikuti para senator, orator hingga para filsuf. Mereka biasa minum-minum di atas dipan sembari membicarakan soal-soal yang beragam, dari mulai soal gosip sehari-hari, isu-isu politik hingga diskusi filsafat. Beberapa hetaire paling terkenal mampu mengkuti semua topik pembicaraan mereka.

Leontion, seorang hetaire legendaris, disebut-sebut bahkan amat mempengaruhi filsuf Epicurus. Aspasia, hetaire yang lain, juga menjadi salah satu murid terpenting Epicurus. Sosok Pericles yang dihormati kabarnya bahkan memelihat seorang hetaire, tak lain dan tak bukan Aspasia sendiri. Alexander yang Agung juga intim dengan hetaire bernama Thais.

Salah satu adegan paling legendaris dalam sejarah prostitusi di Athena adalah adegan ketika orator terkenal bernama Hyperides menjadi pembela seorang hetaire bernama Phyrne. Tak begitu jelas apa tuduhannya. Yang terang, seperti ditulis Vissimtiz, Hyperides datang membela Phyrne dengan teknik pembelaan yang tak pernah diduga para juri dan hakim: ia baringkan tubuh molek nan mulus Phryne di depan mata para juri, membaringkannya dalam keadaan telanjang. Mudah ditebak, Phyrne dibebaskan dari segala tuduhan.

Socrates, filsuf amat terkenal yang juga guru dari Plato, bahkan mengidam-idamkan bisa bertemu (mungkin juga berkencan) dengan hetaire bernama Theodete. Satu waktu, Socrates akhirnya menemui Theodote di kediamannya. Theodote, seperti halnya kebanyakan orang, terkesan dengan percakapannya bersama Socrates. Ia meminta Socrates untuk sering-sering mengunjunginya. Dengan diplomatis dan mungkin juga licik, seperti ditulis oleh Xenopohon dalam karyanya berjudul “Memorabilia”, Socrates menjawab: “Tentu saja, saya tidak ingin larut bersama kamu, saya mau kamu datang padaku… kecuali jika aku sedang bersama kekasihku.”

Dan, tahukah Anda, bahwa salah satu buku terkenal Aristoteles yang berjudul “Nichomachean Ethic”, diambil dari nama anaknya, Nichomachena, yang dilahirkan dari seorang hetaire bernama Herphylis. Aristoteles berhubungan akrab dengan Herphylis saat ia sudah tua dan duda.

Karena kecerdasan dan kemampuannya, para hetaire dibayar amat mahal. Mereka hidup kaya raya. Phyrne, yang sudah diceritakan di atas, bahkan pernah menyanggupi membangun kembali kota Thebes dari kehancuran dengan uangnya sendiri. Jangan heran jika Phyrne sanggup membayar Praxiteles, seorang seniman patung, untuk membuat patungnya yang terbuat dari emas. Kemasyhuran Phryne bahkan diabadikan di daerah suci Apollo, di dalam kuil Delphi. Di sana, terdapat inskripsi yang bertuliskan namanya.

Ini bukan barang langka di Athena. Banyak kuil-kuil suci yang dibangun dari dana yang diberikan para hetaire. Kuil-kuil itu biasa disebut “kuil prostitusi”. Di Yunani, kuil-kuil jenis ini banyak ditemukan di Corinth, Paphos dan Amatahus yang ada di dekat Siprus sekarang.

Saya tergoda untuk membandingkan ini dengan prostitusi yang terjadi –misalnya– di Bukit Kemukus. Ya, banyak pelacur yang ditempatkan di area-area suci. Mereka tidak ditempatkan untuk kepentingan pribadi, melainkan untuk menambah keuangan kuil. Seperti juga di Bukit Kemukus, hubungan seksual dengan para pelacur itu digelar untuk memperoleh berkah. Dalam konteks kuil-kuil di Yunani tadi, hubungan seks dengan para pelacur ini dipersembahkan sebagai bukti bakti pada para dewa, terutama dewa-dewa yang berhubungan dengan mitologi kesuburan.

Salah satu kuil prostitusi paling masyhur bernama Kuil Aphrodite di kota Corinth. Pada momen-momen tertentu, kuil-kuil tersebut akan dipenuhi oleh para pelacur-pelacur kelas tinggi. Dalam konteks inilah, barangkali, saya baru bisa mengerti kenapa penyair legendaris bernama Horace pernah menulis: Non cuivis homini contingit adire corinthum [Tak semua orang bisa mengunjungi Corinth].

Corinth, atau Corinthus, dikenal pada masa itu sebagai pusat dunia sekuler. Nama besar Paulus dianyam –salah satunya– oleh keberhasilannya memperkenalkan Jalan Keselamatan Isa Al-masih ke pendduk Corinth; sesuatu yang pastinya alot dan berat mengingat reputasi kota ini. Surat-surat Rasul Paulus kepada Jemaat Corinth bahkan masih penuh dengan anjuran ihwal pentingnya nilai-nilai kesetiaan pada pasangan.

[]

Pejalan Jauh
http://www.pejalanjauh.com/2008/12/23/pelacur/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: