sekedar mendokumentasikan apa yang perlu didokumentasikan

Perihal Membaguskan Bacaan Al-Qur’an

In Islam on August 19, 2010 at 8:14 am

Hukum Melagukan Al-Qur’an

 

MELAGUKAN Al-Qur’an tidak terlepas dari ilmu dan adab membaca Al-Qur’an yang disebut dengan “Ilmu Tajwid”. Di dalam ilmu Tajwid itulah akan kita jumpai beberapa bacaan yang mengandung Mad (panjang), baik panjang bacaan maupun panjang yang disebabkan oleh ghunnah, ikhfa’, iqlab, idgham dan lain sebagainya. Membaca Al-Qur’an bisa dengan suara keras (jahr), bisa juga dengan suara pelan (sirr), dan bahkan bisa pula dibaca di dalam hati.

Untuk membaca Al-Qur’an dengan jahr (suara keras), disunnahkan oleh Rosulullah SAW agar dibaca dengan bagus.
Bagus disini memiliki banyak arti :
1. Bagus bacaannya
2. Bagus Tajwidnya
3. Bagus suaranya
4. Bagus lagu dan variasinya
5. Bagus pengaturan nafasnya
6. bagus penghayatannya, dsb

Membaca Al-Qur’an dengan bagus sesuai dengan enam komponen tersebut diatas adalah bacaan yang Mujawwad dan Tartil. Dalam hal ini Allah SWT telah menegaskan didalam Al-Qur’an yang artinya :
“Bacalah Al-Qur’an itu dengan setartil-tartilnya”. (QS Al-Muzammil 4)
“Dan kami membaca Al-Qur’an dengan setartil-tartilnya”. (QS Al-Furqon 32)

Kemudian muncul sebuah pertanyaan, Apakah yang dimaksud dengan Tartil?
Pada masa sahabat Rosulullah SAW, Sayyidina ‘Ali Karromallahu Wajhah memberikan penjelasan bahwa :
“Tartil adalah membaguskan huruf-huruf dan mengerti mengenai berhentinya bacaan”.

Penjelasan Sayyidina Ali RA tersebut telah jelas, bahwa tartil adalah bacaan yang membaguskan huruf-hurufnya. Sebab, membaca Al-Qur’an tanpa menjaga keindahan bacaan huruf-hurufnya, akan besar kemungkinan merusak makna dan ayat yang dibaca. Tersirat di dalam memperbagus huruf, agar jangan salah makna. Sebab akan didengarkan oleh Allah SWT, dan oleh manusia yang ada di sekitarnya, berarti disini ada unsur Suara, dalam Hal ini Rosulullah SAW bersabda yang artinya

“Hiasilah Al-Qur’an dengan suaramu, karena suara yang merdu menambah keindahan Al-Qur’an” (HR. Ad-Darimy)
Dari Al-Barra’ bin ‘Azib RA, ia berkata : telah bersabda Rosulullah SAW : “Hiasilah Al-Qur’an dengan suaramu” (HR. Abu Dawud, An-Nasa’I dan lain-lainnya)

Disini telah jelas bahwa ayat Al-Qur’an dan Al-Hadits menganjurkan untuk membaguskan bacaan Al-Qur’an. Bahkan membawakannya harus dengan suara yang merdu, dan berirama . Sebab akan menambah nilai keindahan Al-Qur’an. Berbicara tentang irama, maka sudah pasti ada lagu di dalamnya. Dalam istilah Arab, lagu identik dengan Ghina’ atau Yataghonna, yang artinya menyanyi/berlagu/berseni. Rosulullah SAW menganjurkan di dalam haditsnya yang artinya : “Bukanlah termasuk golonganku, barang siapa yang tidak melagukan Al-Qur’an”

Bahkan juga dianjurkan oleh Nabi SAW, agar suara dan lagunya sesuai dengan bentuk Lahjah (dialek) ‘Araby, sebagaimana sabdanya yang diriwayatkan oleh Imam Malik dalam kitabnya Muwatta’ dan Imam An-Nasa’I dalam sunan-nya dari Hudzaifah, dari Rosulullah bersabda :
“Bacalah Al-Qur’an dengan luhun (lagu) dan bentuk suara Arab”

Dengan demikian melagukan Al-Qur’an adalah anjuran Allah SWT dan Rosulullah SAW.

Al-Imam Al-Karmany mengatakan bahwa membaguskan suara dalam membaca Al-Qur’an Sunnah hukumnya, sepanjang tidak menyalahi kaidah-kaidah ilmu Tajwid. Demikian pula meresapi maknanya sehingga mempengaruhi jiwanya menjadi sedih atau senang. Kemudian para ‘Ulama’ mengulas sebagaimana yang telah dikatakan oleh Sayyidina ‘Ali RA dan sepakat bahwa membaca Al-Qur’an disertai dengan Tajwid adalah Wajib hukumnya.

Imam Ibnul Jazary juga mengatakan bahwa bacaan yang dapat memukau pendengarnya dan dapat melunakkan hati adalah bacaan Al-Qur’an yang baik dan benar, bertajwid dan berirama yang merdu. Namun walaupun gaya, lagu dan suaranya merdu tetapi tidak memperhatikan kaidah-kaidah ilmu Tajwidnya, Ahkamul huruf, Makhaarijul huruf dan Sifatul hurufnya maka hukumnya adalah hram dan berdosa .

Melaksanakan Tajwid dalam membaca Al-Qur’an adalah suatu keharusan, dan barangsiapa membaca Al-Qur’an tanpa Tajwid berdosa hukumnya, karena Al-Qur’an diturunkan Allah sekaligus disertai dengan tajwidnya. Bacaan dengan bertajwid adalah suatu batasan yang tepat. Sebab membaca Al-Qur’an dengan suara yang bagus, lagu yang indah, nafas yang memadai, akan tetapi tidak disertai dengan Tajwidnya, hanya sekedar ingin menarik perhatian dan ingin dikagumi oleh pendengarnya saja adalah sangat dilarang keras.

Dalam salah satu hadits Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Imam At-Thabrani dan Imam Al-Baihaqi dinyatakan :
“Bacalah Al-Qur’an itu dengan Luhun ‘Arab (cara membaca yang baik daripada orang Arab) dan cara-cara mereka dalam menyuarakannya. Jauhilah gaya lagu golongan orang fasiq dan berhati-hatilah dari gaya lagu ahli kitab (Yahudi). Sesungguhnya nanti akan datang beberapa kaum yang mengulang-ulang bacaan Al-Qur’annya hanya karena lagu seperti yang telah dilakukan oleh para Rahib, seolah-olah mereka bukan membaca Al-Qur’an, apa yang mereka baca tidak membekas pada diri mereka, pengagum-pengagum hanya diselimuti fitnah belaka.”

Sejarah Perkembangan Ilmu Nagham Al-Qur’an ( Seni Baca Al-Qur’an )

Menurut Ibnu Manzur dalam kitabnya Lisanul ‘Arab jus 19 halaman 376, bahwa dari segi sejarahnya asal mula lagu Al-Qur’an ada dua pendapat. Pendapat yang pertama mengatakan bahwa lagu Al-Qur’an itu bersal dari nyanyian budak-budak kafir yang tertawan ketika perang melawan kaum Muslimin. Pendapat kedua mengatakan bahwa lagu Al-Qur’an itu berasal dari nyanyian nenek moyang bangsa Arab. Selanjutnya nyanyian bangsa Arab tersebut digunakan untuk melagukan Al-Qur’an. Sampai di sini terjadi kekaburan tentang siapa yang yang memindahkan nyanyian tersebut kapada melagukan Al-Qur’an. Dengan demikian terdapat dua persoalan dalam sejarah lagu Al-Qur’an. Pertama adalah tentang asal mula lagu Al-Qur’an, dan yang kedua tentang orang pertama yang memindahkan nyanyian itu menjadi lagu Al-Qur’an.

Kalau memang betul bahwa lagu Al-Qur’an itu berasal dari nyanyian, maka tentu dapat dirumuskan. Hal ini diakui kebenarannya oleh sebagian besar para musisi, tetapi tidak semua lagu dapat dirumuskan ke dalam not balok, termasuk lagu-lagu Al-Qur’an. Hal ini disebabakan karena dalam lagu Al-Qur’an terlalu banyak pecahan suaranya Muchsin Alatas misalnya, beliau mengatakan bahwa not balok tidak dapat membantu dengan sempurna untuk mempelajari lagu-lagu Al-Qur’an, karena lagu-lagu Al-Qur’an mengandung perasaan yang sangat dalam.. Begitu juga dengan Anis Shahab, salah satu vokalis group musik gambus La Tansa juga mengatakan hal yang sama.

Sedangkan menurut KH. Mukhtar Luthfi Al-Anshori, mengatakan bahwa lagu-lagu Al-Qur’an tidak dapat dirumuskan ke dalam not balok karena lagu-lagu Al-Qur’an bersumber pada perasaan dan dibantu oleh alat musik biola (penataran Dewan Hakim MTQ DKI 1981).

Rosulullah Muhammad SAW adalah seorang Qori’ yang mampu mendengungkan suaranya tatkala membaca Al-Qur’an. Suatu ketika Beliau pernah mendengungkan suaranya dengan lagu dan irama yang sangat memukau masyarakat ketika itu. Abdullah bin Mughaffal menggambarkan suaranya menggelegar, bergelombang, dan berirama sangat indah sehingga unta yang dinaikinya terperanjat (salah satu ayat yang dibaca adalah surat Al-Fath).

Di kalangan para sahabat ada juga Qori’ kenamaan kesayangan Rosulullah SAW, yaitu Abdullah bin Mas’ud dan Abu Musa Al-Asy’ary. Hal ini dapat dibuktikan dengan sabda Beliau :

Abdullah bin Mas’ud berkata, Rosulullah SAW bersabda : “Bacakanlah Al-Qur’an kepadaku”, lalu Ibnu Mas’ud menjawab,”Apakah saya juga harus membacakan, sedangkan Al-Qur’an itu diturunkan kepadamu?”, Rosulullah menjawab, “Ya”, Lalu aku (Abdullah bin Mas’ud) membaca surat An-Nisa’, sehingga setelah selesai pada ayat fakaifa idza ji’na min kulli bisyahidin wa ji’na bika ‘ala haa’ulaai syahiida, Beliau berkata “Cukup, sampai disini saja”. Kemudian saya menoleh kepada beliau, tiba-tiba mata beliau bercucuran air mata.

Dan sabda Beliau :
Dari Abi Nusa, dari Ayahnya berkata, pada suatu ketika Rosulullah SAW berkata kepada Abu Musa, “Wahai Abu Musa, semalam aku telah mendengarkan bacaan Al-Qur’anmu”, kemudian aku (Abu Musa) menjawab : “Demi Allah andaikata aku tahu bahwa engkau mendengarkan bacaan Al-Qur’an itu, niscaya akan aku bagyskan lagi bacaan Al-Qur’anku.” Imam muslim yang meriwayatkan dari Tholhah menambahkan “Sesungguhnya engkau telah di anugerahi sulin (suara yang bagus) dari keluarga Nabi Daud AS.

Beberapa hadits diatas menunjukkan bahwa betapa indahnya pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an, baik dari segi lagu maupun artinya. Begitu juga terhadap kedua sahabat yang begitu bagus bacaannya.

Hal yang demikian ini menunjukkan bahwa sejak zaman Nabi SAW dan sahabat, membaca Al-Qur’an dengan lagu yang merdu sudah ada dan bahkan dianjurkan oleh Nabi. Pada masa Tabi’in banyak juga Qori’-qori’ yang mampu memukau ummat pada masa itu. Namun sampai periode ini masih kabur tentang nama-nama lagu-lagu yang didengungkan pada saat itu. Kekaburan itu tetap menjadi tantangan sampai saat ini. Di antara Tabi’in yang termasuk Qori’ adalah Umar bin ‘Azis. Hal ini dikatakan oleh Ibnu Musayyab dalam kitab Al-Ghoyah Wan Nihayah. Selain itu ada Safir Al-Alusi (314 H), dia terkenal sebagai Qori’ yang cerdas dan dermawan.

Adapun Qori’-qori’ dari kalangan Tabi’it tabi’in, antara lain Abdullah bin Ali bin Abdillah Al-Baghdadi. Ditegaskan oleh Ibnu Jauziq, bahwa ia termasuk Qori’ yang tidak ada tandingannya pada masa itu, baik suara maupun lagunya.

Selain itu ada pula Kholid bin Utsman bin Abd Rohman (715 H). Dikatakan oleh Sahlawi bahwa dia termasuk Qori’ yang tiada tandingannya ketika melagukannya diatas panggung. Selain itu ada Qori’ yang tidak kalah hebatnya apabila dibandingkan dengan para Qori’ tersebut.

Demikian sekelumit tentang sejarah perkembangan lagu Al-Qur’an semenjak zaman Rosulullah SAW sampai pada Tabi’in dan Tabi’it tabi’in.

Sumber: http://zulfikarhot.wordpress.com/

[]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: