sekedar mendokumentasikan apa yang perlu didokumentasikan

Chatib Basri: Jangan Pertaruhkan Perekonomian Indonesia

In Berita, Opini on December 18, 2009 at 5:58 am

Perspektif Online
http://perspektif.net/indonesian/article.php?article_id=1227

ISU pokoknya bukan soal bela Sri Mulyani – Boediono. Itu terlalu personal. Yang lebih penting adalah kita coba selamatkan nasib kita sendiri dalam arti tabungan kita, pendapatan kita, pekerjaan kita, dengan mendorong supaya ekonomi tidak diganggu. Jadi kalau membuat pernyataan atau sikap maka tujuannya adalah bagaimana menyelamatkan ekonomi Indonesia dari tekanan politik ini.

***

EKONOM Universitas Indonesia DR M. Chatib Basri mengatakan saat ini aspek
politik dominan dalam isu Bank Century karena menyangkut kursi di kabinet. “Kalau memang mau berkelahi mengenai posisi kursi boleh saja. Namun jangan ekonomi Indonesia dipertaruhkan karena korbannya akan terlalu banyak dan biayanya juga terlalu mahal kalau ekonomi kita rusak,” kata Chatib Basri.

Ini diucapkan dalam wawancara dengan Wimar Witoelar pada Perspektif Baru
(PB)  yang akan ditayangkan akhir minggu depan. Saat ini PB dan PO memberikan fokus pada topik Bank Century karena banyak terjadi kerancuan yang dilontarkan politisi dan beberapa pihak seperti terekam di media mainstream. Guna terus memberikan kejernihan pada publik, kali ini Perspektif Online dan Perspektif Baru membahas Bank Century dengan ekonom Chatib (Dede) Basri.

Menurut Dede Basri, isu Bank Century merupakan isu yang besar sekali. Selama ini orang hanya melihat isu tersebut sebatas Bank Century dan terkait Sri Mulyani – Boediono. Namun ada yang lebih jauh dari hal tersebut dan tidak sebatas pada Sri Mulyani – Boediono, yaitu negara ini dipertaruhkan.

Bulan November 2008, sebelum Bank Century diselamatkan (bail out) banyak sekali beredar SMS mengenai bank-bank yang mau dirush. Bahkan ketika ada demonstrasi di satu kantor wilayah yang dekat dengan sebuah bank, orang ribut mengira bahwa bank tersebut di-rush.

“Contoh ini menunjukkan bagaimana panik yang  terjadi saat itu,” kata Dede. Apalagi Indonesia tidak melakukan penjaminan penuh terhadap dana pihak ketiga (blanket guarantee) di perbankan. Dalam situasi itu maka mau tidak mau  kita tidak boleh mengambil risiko. Kalau terjadi suatu bank kolaps maka dampaknya bisa sistemik. Keputusan bail out akhirnya harus diambil.

Sekarang jika krisis global terjadi lagi kemudian ada bank yang terkena atau kolaps, maka pertanyaannya adalah apakah Menteri Keuangan, siapa pun dia,
berani untuk mengambil tindakan penyelamatan. “Kalau tidak, saya sebagai investor akan bertanya, untuk apa saya menaruh uang di Indonesia. Saya lebih baik menaruh uang di negara yang memberikan jaminan 100%  atau blanket guarantee,” kata Dede. Ini bukan sesuatu yang konspiratif, ini sesuatu yang rasional saja. Semua orang akan berusaha mempertahankan uangnya.

Jika melihat perlakuan terhadap Sri Mulyani dan Boediono seperti saat ini, Dede merasa siapa pun Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Indonesia, pemerintah tidak akan berani mengambil tindakan penyelamatan bank untuk menyelamatkan negara ini. “Kenyataan yang terjadi adalah orang baik di-punish (dihukum), sedangkan yang tidak baik di-reward (diberi angin) dengan kejadian seperti ini.”

Dede menegaskan bahwa sektor keuangan merupakan bisnis kepercayaan. Yang paling utama adalah orang percaya atau tidak dengan Indonesia. Kalau tidak percaya, orang maka akan meninggalkan Indonesia. Saat ini anchor (jangkar) dari investor baik domestik maupun asing adalah Sri Mulyani dan Boediono. Kalau anchornya tidak ada, maka investor akan bertanya siapa yang akan melindungi kepentingan di dalam ekonomi saya seperti tabungan dan lain-lain.

Para investor telah menyatakan kepada Dede bahwa mereka tidak yakin jika ada bank yang bermasalah lagi akan diselamatkan karena tindakan yang benar
terhadap Bank Century malah di-punish. Padahal di seluruh dunia tindakan tersebut dilakukan dan dianggap sebagai sesuatu yang benar dan tepat. “Kalau itu terjadi dan para investor menarik uang ke luar negeri maka rush di bank bisa terjadi dan rupiah bisa mencapai Rp 12.000-an per dolar AS lagi,” papar Dede.

Akibatnya lagi, persoalannya bukan mengenai Sri Mulyani dan Boediono tapi semua orang yang memiliki tabungan dalam bahaya, dan ekonomi Indonesia ada dalam bahaya. Jadi yang dilakukan sekarang ini secara tidak langsung menyiapkan Indonesia menuju kepada kerapuhan sistem keuangan karena yang dilakukan adalah mencegah orang untuk berbuat baik. “Ini saya kira yang membuat persoalan lebih krusial dibandingkan isu Bank Century itu,” tegas dia.

Dede Basri mengatakan yang penting saat ini adalah memahami persoalan ini. Isu pokoknya bukan soal bela Sri Mulyani – Boediono. Itu terlalu personal. Yang lebih penting adalah kita coba selamatkan nasib kita sendiri dalam arti tabungan kita, pendapatan kita, pekerjaan kita, dengan mendorong supaya ekonomi tidak diganggu. Jadi kalau membuat pernyataan atau sikap maka tujuannya adalah bagaimana menyelamatkan ekonomi Indonesia dari tekanan politik ini.

“Jangan sampai gonjang-ganjing politik membuat nilai rupiah jatuh, bank tutup, orang tidak bisa kerja, pengangguran naik. Celaka kita kalau harus mengulangi kesalahan itu,” kata dia. Sebagai penutup, Wimar Witoelar memberi komentar bahwa di suatu pertempuran, seperti sekarang pertempuran untuk kesejahteraan ekonomi, tidak ada posisi netral. Kita harus mengambil pihak. “Kalau saya berpihak pada pemeliharaan kestabilan ekonomi. Karena itu kita harus lebih banyak mengetahui isu ini,” tegas Wimar. []

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: