sekedar mendokumentasikan apa yang perlu didokumentasikan

Akankah Indonesia Mengorbankan Pejuang Anti-Korupsinya?

In Opini on December 17, 2009 at 6:52 am

Artikel ini ditulis oleh Ross McLeod (ANU) dan Arianto Patunru (LPEM-FEUI).

SAYA sebenarnya kurang suka kalau diskusi kasus Century jadi masuk ke tataran ‘personality. ‘ Masalahnya banyak yang kabur antara penuntasan kasus Century dan gerakan turunkan SMI-Boed. Ini terlihat dari demo2 di Jakarta yang mengusung poster keduanya bak penjahat. Mungkin memang ada kesalahan administratif yang terjadi — meski saya tetap berpendapat bahwa kebijakan bailout adalah tepat. Tapi melihat SMI-Boed sebagai orang2 yang mengambil kepentingan pribadi dalam kasus ini, buat saya, sudah terlalu jauh. Dan ini bukan pembelaan atas pribadi. Kalau kita lihat rekam jejak mereka, justru mereka ada di barisan orang2 yang aktif memberantas korupsi. Kalau kemudian keduanya jadi target, saya takut, yang bertepuk tangan adalah mereka yang pernah dibuat ‘sakit hati’. Dalam kasus saham Bumi resources, Asian Agri (dimana Wapres JK maunya menyelesaikan secara ‘adat’), pembersihan Bea Cukai, pembersihan kantor pajak, dsb. Singkatnya, saya takut banyak orang jadi ‘memusuhi kawan’ dan ‘mengawani musuh’ secara tidak sadar.

Sangat bisa dimengerti bahwa rakyat Indonesia telah begitu geram terhadap korupsi. Namun rupanya banyak yang mafhum bahwa protes massal 9 Desember dapat tergelincir pada situasi yang mengorbankan dua pejabat pemerintah dengan integritas tinggi: Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dan Wakil Presiden Boediono. Sebuah pengorbanan besar yang manfaatnya justru dinikmati para koruptor.

Publik tentunya masih ingat, salah satu tindakan pertama Sri Mulyani ketika dipilih menjadi Menteri Keuangan adalah mengganti pimpinan Direktorat Jenderal Pajak maupun Bea-Cukai, dua lembaga yang telah lama diasosiasikan dengan korupsi dalam skala besar. Ia juga mengganti lebih dari seribu pegawai Bea-Cukai yang disinyalir melakukan tindakan korupsi. Tidak hanya berhenti di situ, ia langsung menerapkan reformasi birokrasi di segenap jajaran kementeriannya, dengan visi bukan hanya membasmi korupsi, tapi juga meningkatkan keefektifan birokrasi. Kita juga mencatat bagaimana Sri Mulyani menolak keras desakan pihak tertentu untuk menghentikan perdagangan di bursa efek tahun lalu.

Sebagai Menteri Keuangan pada masa Megawati, Boediono telah memulai membangun sebagian fondasi reformasi tersebut dengan upaya membersihkan kantor pajak. Selain itu, ia mendorong pembasmian korupsi di seluruh sektor publik dengan menetapkan dasar-dasar bagi praktek akuntansi keuangan yang benar. Tiga undang-undang baru dikeluarkan untuk mendukung upaya ini. Sebuah perangkat standar-standar akuntansi disusun, untuk diterapkan di seluruh instansi pemerintah.

Bersama Badan Pemeriksa Keuangan, yang baru diberdayakan, perubahan-perubahan pada proses kepemerintahan ini mampu berkontribusi besar pada upaya pemberantasan korupsi. Meski demikian, berbeda dari berita mengenai ditangkapnya pejabat-pejabat tinggi, berikut proses pengadilan dan penghukuman terhadap mereka, perubahan tersebut kurang diperhatikan media dan masyarakat. Tapi laporan-laporan keuangan yang tepat dapat memberikan serentetan bukti dokumenter sehubungan dengan penggunaan uang dan aset masyarakat. Pada gilirannya, hal ini menyebabkan pejabat-pejabat korup jauh lebih sulit menyembunyikan tindakan mereka.

Boediono telah meletakkan fondasi penghindaran korupsi dengan mewajibkan dilaporkannya realisasi anggaran tahunan secara akurat dan dapat diakses publik paling lambat dalam waktu enam bulan. Pada masa sebelumnya, laporan semacam itu baru muncul setelah penundaan satu atau dua tahun–dan bahkan dalam kondisi yang kurang dapat dipercayai serta tidak dapat diaudit. Reformasi ini, yang diterapkan di semua sektor publik, sama sekali tidak terliput dalam headline media. Tapi ia menjadi syarat mutlak dalam upaya menjaga pemerintah di setiap tingkat untuk berperilaku jujur.

Tentu saja, mereka yang telah mendapat untung dari praktek korupsi di masa lalu tidak akan menerima begitu saja reformasi yang mengancam mereka dengan kerugian keuangan, dan bahkan kemungkinan penghukuman penjara. Memahami hal tersebut, menjadi sangat penting untuk melihat secara lebih jernih apa yang sedang terjadi dalam politik Indonesia beberapa bulan belakangan ini.

Komisi Pemberantasan Korupsi telah mencatatkan keberhasilan luar biasa dalam menyeret para koruptor ke penjara. Namun keberhasilan ini telah mengancam berbagai lembaga kuat, termasuk Kepolisian dan DPR. Kepolisian telah menghantam balik dengan tuduhan tak berdasar terhadap dua Wakil Ketua KPK; mereka mengalah setelah intervensi dari Presiden. Di lain pihak, DPR baru-baru ini mengeluarkan produk hukum yang cenderung melemahkan wewenang KPK. DPR juga tercatat telah menunjuk mantan Dirjen Pajak–yang telah dimutasikan oleh Sri Mulyani dari posisinya tersebut–sebagai Kepala BPK yang baru.

Upaya-upaya menyingkirkan Boediono dan Sri Mulyani perlu ditafsirkan dengan melihat semua hal ini sebagai latar belakang. Tuduhan korupsi terhadap mereka sehubungan dengan kasus Bank Century sungguh tidak sepadan dengan catatan-catatan gebrakan antikorupsi mereka. Masyarakat juga perlu menyadari bahwa ketika bailout terhadap Bank Century pada bulan Oktober tahun lalu, pemerintah-pemerint ah di seluruh dunia melakukan hal yang serupa, dengan alasan yang sama. Amerika Serikat, Inggris, serta negara-negara lain menghadapi kemungkinan anjloknya sektor keuangan, menggelontorkan uang dalam jumlah raksasa kepada bank-bank dan lembaga keuangan, karena mereka khawatir, jika mereka tidak melakukannya, perekonomian akan ambruk.

Sama halnya, di Indonesia terjadi tekanan luar biasa terhadap rupiah, sementara harga-harga saham anjlok secara drastis. Maka sesungguhnya tidak mengherankan bahwa Komite Stabilitas Sistem Keuangan–di mana Boediono dan Sri Mulyani adalah anggota dan ketuanya–memutuska n menyelamatkan Bank Century ketimbang menanggung risiko konsekuensi luar biasa jika bank tersebut dibiarkan gagal. Dapat dimengerti bahwa konsekuensi dahsyat ambruknya perbankan pada 1998–yang dipicu oleh gagalnya sejumlah bank kecil–masih hangat dalam pikiran mereka.

Adalah tidak mungkin untuk mengetahui dengan pasti apakah langkah penyelamatan itu memang benar-benar diperlukan. Namun kita saksikan bahwa hampir semua negara di wilayah Asia Timur dan juga hampir semua negara maju terperosok di ambang resesi, Indonesia hanya mengalami penurunan kecil pada laju pertumbuhan tahunannya, dari 6 persen ke 4 persen. Bandingkanlah dengan penurunan drastis pada 1998, dari 6 persen menjadi -13 persen. Biaya dari krisis Asia yang lalu tersebut dalam ukuran produksi yang hilang adalah sekitar US$ 46 miliar hanya dalam setahun; sementara biaya dari krisis global saat ini terhadap perekonomian Indonesia–yang sekarang jauh lebih besar–hanya sekitar US$ 19 miliar.

Beberapa peserta aksi protes 9 Desember yang mengotori foto dan melecehkan nama Boediono serta Sri Mulyani bisa bersikap lebih seimbang jika mereka sudi merenungkan bagaimana kondisi Indonesia saat ini tanpa respons yang begitu tepat dari Bank Indonesia dan Departemen Keuangan terhadap krisis finansial global yang baru lewat. Akan bermanfaat juga sekiranya mereka, begitu juga masyarakat luas, mencoba bertanya: siapa yang bersedia meneruskan perjuangan melawan korupsi jika kedua pejuang ini dikorbankan? Siapa yang berani memikul risiko terhadap masa depannya sendiri, setelah mengamati minimnya dukungan kepada orang-orang seperti mereka? *

*) Ross McLeod adalah editor Bulletin of Indonesian Economic Studies, terbitan Australian National University, Canberra; Arianto Patunru adalah Direktur Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Universitas Indonesia.

  1. Dear Mr. McLeod
    saya sangat tertarik dengan tulisan anda. Tadinya saya berfikir akan mendapat jawaban yang dapat memenuhi keingintahuan saya mengapa pada tanggal 16 desember 2009 lalu, sekelompok orang menyatakan sependapat dengan pelaksanaan bail out terhadap bank century.

    Dalam tulisan anda ini, anda pun menyatakan bahwa bail out terhadap bank century tersebut mungkin diperlukan dan alasan yang anda kemukakan adalah bahwa “pada saat bersamaan semua negara di dunia ini melakukan hal yang sama”. pertanyaan saya adalah apakah situasi dan kondisi tersebut dapat secara langsung disamakan dengan situasi dan kondisi kasus bank century tersebut?

    Menurut hemat saya, masyarakat perlu diberikan informasi yang sangat jelas, mengapa keputusan bail out tersebut di ambil (dan harapan saya hal ini pula lah yang sedang dilakukan oleh pansus di dpr)dan bukan seperti mengalihkan ke arah mempergunjingkan keberadaan pak boediono dan ibu sri mulyani.

    Kenyataan bahwa beliau berdua sebagai key persons pada saat itu, dan sebagai key person, tentunya merupakan kewajiban mereka lah untuk memberikan penjelasan atas keputusannya tersebut.

    saya secara pribadi tidak melihat adanya upaya untuk mengorbankan kudua tokoh tersebut seperti yang anda sebutkan. tapi mereka memang perlu mengungkap alasan dan kebenaran atas apa yang sesungguhnya terjadi.

    penjelasan dari mereka akan menutup semua spekulasi dan asumsi-asumsi terhadap kasus ini.

    best regards
    NAB

    • Nuky Budhijana dear,

      Alasan diambilnya keputusan bail out sudah dijelaskan secara lengkap oleh Bu Sri dan Pak Boed pada saat sidang pansus kemarin, dan penjelasan tersebut sudah sangat bagus dan dapat dipertanggungjawabkan.

      Yang mengherankan adalah masih banyak orang yang mempertanyakan alasan kebijakan bail out tersebut, pertanyaannya adalah apakah mereka sudah memahami hal ini atau memang tidak tahu (tidak mau tahu) tetapi seolah-olah tahu segalanya dan tetap mempersalahkan kebijakan bail out tanpa alasan yang jelas.

      Oleh karenanya, saya melihat memang ada sekelompok orang yang tidak ingin Indonesia bebas dari korupsi dengan cara mengorbankan pejuang anti korupsinya.

      Warm Regards,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: