sekedar mendokumentasikan apa yang perlu didokumentasikan

Meretas Wacana Sekularisasi

In Opini on December 15, 2009 at 3:03 pm

.

Resensi Buku: Sekularisasi Ditinjau Kembali (Pippa Norris dan Ronald Inglehart)

Seputar Indonesia | Minggu, 29 November 2009 | Oleh Mohalli Ahmad *

Sejauh ini, perdebatan mutakhir sekularisasi berhenti pada pudarnya anggapan beberapa pemikir sosial tentang eksistensi agama di dunia modern. Auguste Comte, Emile Durkheim, Max Weber, Karl Marx, dan Sigmund Freud merupakan sederetan tokoh yang memprediksi agama akan segera ditinggalkan pemeluknya, khususnya dalam masyarakat industri. Namun, kenyataan agama di abad ke-20 hingga sekarang tetap eksis dan masih dibutuhkan perannya.

Bahkan ada kecenderungan untuk semakin memperkuat vitalitas agama dengan menjadikannya sebagai landasan ideologis kelompok atau gerakan sosial-politik tertentu. Pertanyaannya, benarkah anggapan yang didasarkan atas kerangka teoritis itu sepenuhnya salah? Bukankah modernisasi selalu disertai atau mengandung arti sekularisasi dan karena itu orang modern berarti sekuler?

Dua Arus Besar

Secara garis besar, formulasi perdebatan itu memunculkan dua bentuk perspektif tentang sekularisasi, yaitu teori-teori sisi permintaan (demand side theories) dan teori sisi penawaran (supply side theory).Teori pertama menyatakan bahwa ketika masyarakat terindustrialisasi, maka perilaku religius akan terkikis dan agama akan kehilangan momentumnya.

Teori ini mempercayai keniscayaan sekularisasi sebagai akibat dari modernisasi beserta elemen dasarnya, seperti industrialisasi, urbanisasi, dan rasionalisasi. Kehidupan yang dipusatkan kepada manusia (antroposentris) sebagai makhluk otonom yang berhadapan dengan realitas di luar dirinya, menggantikan pandangan hidup sebelumnya yang bersifat teosenstris. Tatanan kultural mulai bergeser ke arah struktural dengan munculnya dunia birokrasi modern dan teknologi yang bersifat rasional dan ilmiah. Akibatnya, hampir tak ada ruang di dunia ini bagi sesuatu yang supranatural dan karena itu agama secara perlahan akan memudar.

Pendukung teori ini dikomandoi secara khusus oleh Max Weber yang kemudian didukung oleh Peter Berger, David Martin, dan Brian Wilson. Demikian pula dukungan diberikan Emile Durkheim melalui pendekatan fungsionalis dalam karya The Elementary Forms of The Religious Life yang dikembangkan lebih jauh oleh teoritisi kontemporer, seperti Steve Bruce,Thomas Luckman,dan Karel Dobbelaere. Teori kedua tampil secara khusus menepis anggapan sebagaimana dalam teori pertama.

Melalui pengujian empiris terhadap kehadiran jama’ah di berbagai Gereja di Eropa, ditemukan bukti historis bahwa agama tidak sedang menuju titik pudar dan peran agama belum terkikis. Sebaliknya, vitalitas agama semakin meningkat dengan beberapa indikasi seperti fenomena fundamentalisme agama, gerakan politik keagamaan,munculnya variasi golongan, aliran, atau sekte dari beberapa agama di berbagai negara, tumbuhnya gerakan-gerakan spiritual baru dan semacamnya.

Proposisi inti dalam pendekatan sisi penawaran atau pendekatan pasar keagamaan merupakan gagasan bahwa kompetisi yang ketat di antara kelompok keagamaan memberi efek positif terhadap keterlibatan keagamaan (halaman 14). Prinsip teori ini adalah permintaan atau tuntutan terhadap agama bersifat konstan, sementara vitalitas kehidupan beragama tergantung pada penawarannya dalam pasar keagamaan.

Keamanan Eksistensial

Menjawab kebuntuan wacana teoritis itulah yang menjadi minat sekaligus obsesi dari Pippa Norris dan Ronald Inglehart sehingga berani meleburkan diri dalam proses pemikiran dan penelitian cukup panjang dan serius.Tak sia-sia, usaha itu mampu menghasilkan terobosan baru dengan kerangka teoritis yang diuji berdasarkan bukti-bukti dari survei mulai 1981- 2001,atas 80 masyarakat di seluruh dunia dan mencakup seluruh keyakinan agama.

Dan,terobosan itu adalah teori sekularisasi yang bersandar pada dua aksioma atau premis sederhana, yaitu aksioma keamanan dan aksioma tradisitradisi budaya. Keamanan yang dimaksud adalah keamanan dalam arti luas kaitannya dengan eksistensi hidup manusia. Berbagai faktor, seperti kemiskinan, keterbatasan akses terhadap kesehatan, epidemi penyakit, bencana lingkungan, peperangan, dan sebagainya merupakan beberapa contoh yang dapat mengancam keamanan manusia. Keamanan inilah yang menjadi faktor utama seseorang berorientasi sekuler. Orang atau masyarakat (berlaku baik ego-tropik maupun sosio-tropik) modern yang tingkat keamanannya tinggi, ia akan sekuler.

Sebaliknya, ia akan lebih religius bila tingkat keamanannya rendah dan tidak terjamin. Sementara itu, tradisi-tradisi budaya merupakan seluruh pandangan dunia yang muncul dari tradisi keagamaan,tetapi perlahan membentuk karakter dan budaya masyarakat. Di sini tradisi historis akan tetap mewarnai pandangan tertentu, seperti kesadaran gender, etika kerja, pandangan terhadap seks, atau demokrasi yang berbeda dengan masyarakat di negara dengan akar tradisi yang khas.

Melalui teori yang dikembangkan beserta premis dan hipotesis di dalamnya, penulis buku ini kemudian sampai pada kesimpulan tautologis. Pertama, bahwa karena keamanan manusia makin tinggi, maka hampir semua masyarakat industri maju bergerak ke arah orientasi sekuler. Kedua, karena kondisi kemiskinan, maka dunia secara keseluruhan lebih banyak ditempati orang dengan pandangan keagamaan tradisional dibanding sebelumnya. Dua konklusi ini menunjukkan bahwa modernisasi memang mengakibatkan lemahnya agama di negara yang mengalaminya.

Namun,persentase dunia yang menganggap penting agama makin meningkat. Lalu bagaimana nasib agama di dunia modern? Dengan tegas Norris dan Inglehart menjawab bahwa agama tidak akan pudar bahkan di negara sekuler sekalipun, tetapi sekularisasi akan tetap menjadi kecenderungan yang secara konsisten berhadapan dengan agama. Agama tetap eksis.

Namun, sekularisasi merupakan keniscayaan yang akan terus berlangsung bagi negara yang mengalami modernisasi. Sekularisasi ditentukan oleh keamanan eksistensial, sementara eksistensi agama oleh kondisi masyarakat ‘miskin’
tradisional. (*)

Mohalli Ahmad, Peneliti Himpunan Penelitian dan Pengembangan Masyarakat (HP2M), Indonesian Culture Academy
(INCA), dan Forum Muda Paramadina.

____________ _________ _________ ____

DATA BUKU:

Judul : SEKULARISASI DITINJAU KEMBALI
(Agama dan Politik di Dunia Dewasa Ini)

Penulis : Pippa Norris & Ronald Inglehart
Penerjemah : A. Zaim Rofiqi
Editor : Ihsan Ali-Fauzi dan Rizal Panggabean
Genre : Kajian Agama/Sosial/ Demokrasi
Cetakan : I, Oktober 2009
Ukuran : 15 x 23 cm + flap 9 cm
Tebal : 392 halaman

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: