sekedar mendokumentasikan apa yang perlu didokumentasikan

Hilangnya Peluang Kerja

In Opini on July 9, 2009 at 4:09 pm

Ario Djatmiko, Staf Pengajar Fakultas Kedokteran UNAIR

AIRPORT adalah wajah satu negara. Padatnya lalu lintas internasional menunjukkan posisi ekonomi negara di mata dunia. Kalau jeli, Anda akan melihat setiap airport selalu berkembang dinamis. Yang mencolok, Duty Free Shops bukan tempat favorit lagi. Di mana-mana terlihat manusia tekun menghadapi komputer tanpa bicara. Sunyi!

Artinya, lalu lintas bisnis berputar dengan kecepatan tak terbayangkan, tanpa henti, tidak mengenal tempat dan waktu. Benar, don’t ever blink your eyes, the opportunity will past. Manusia jenis apakah yang mampu berselancar di arus bisnis yang mengerikan ini?

Manusia vs Teknologi
Perkembangan teknologi tak dapat dibendung. Pertarungan manusia melawan mesin untuk berebut kerja tak terelakkan. Tom Peters menghitung, pada 1970-an, unloading satu kapal memerlukan 108 pekerja dan lima hari kerja. Saat ini, cukup delapan orang dan satu hari kerja.

Teknologi menang. Containerization menyingkirkan 98.5 persen tenaga manusia. Pasar global butuh aturan main yang jelas dan standar global. Produktivitas kerja—standar, efisiensi dan efektivitas—diukur dalam time and money. Tampaknya, pekerja otot semakin tidak punya tempat di bumi ini.

Tom Peters juga melihat 90 persen pekerjaan white collar terancam hilang. Manufaktur dan back office terus mencari tempat dan cara yang lebih murah, outsourcing. Tiongkok dan India mengancam kehidupan pekerja analisis Barat. Automatisasi masuk ruang analisis.

Daniel Pink (2006) mencatat, 21 juta orang di Amerika telah mengganti pekerjaan akuntan dengan software sederhana. Terjadi herd-principle, tenaga terampil bergerak layaknya kelompok hewan yang terus berpindah mencari lahan subur. Tidak ada lagi pekerjaan yang aman di dunia ini. Pemimpin Intel, Craig Barret menulis di The Economist, “Saya ketakutan memikirkan nasib anak-cucu saya”.

Era Keserakahan
Tentang survival, Charles Darwin mengingatkan, it’s not the strongest of the species who survive, nor the most intelligent… but the most responsive to change.

Iklim akan menentukan tata nilai, dasar berpikir, dan cara pandang manusia. Kita tak dapat mengelak, hanya iklim kapitalisme dan neoliberalisme-lah yang ada saat ini.

Dalam bukunya, The Flight of The Creative Class, Richard Florida menulis sebuah dogma, greed is good. Keserakahan mendorong manusia mengejar uang tanpa batas. Mendorong orang bekerja keras, mendorong terjadinya ledakan teknologi, terus mencipta, dan seterusnya.

Setiap manusia akan memaksimalkan kegunaan miliknya dan otomatis menjadi penjaga pasar agar berjalan efisien. Greed, in other words, is the sin qua non of the creation of wealth, the fuel that drives our economic engine.

Tentang kapitalis, Robert P. Murphy mengatakan, tidak ada sistem lain yang lebih sukses meningkatkan derajat hidup manusia. Kebebasan memilih, proses jual-beli produk yang sehat menggiring kita menemukan nilai tertinggi yang kita ingingkan.

Tenaga kerja pun dikemas menjadi barang dagangan. Pertimbangan dalam membeli tenaga kerja hanyalah nilai tambah ekonomi si pekerja, bukan ikatan solidaritas, bukan pula primordial, apalagi rasa kasihan. Meritokrasi efektif menghasilkan tenaga unggul, tetapi dapat berakibat sangat kejam.

Kompetisi adalah “agama” baru di bumi ini. Lalu, lahirlah manusia-manusia berotak super. Arus mengerikan itu juga membawa peluang. Hanya si otak super-lah yang mampu menangkap peluang tersebut.

Muncul kisah sukses Sergey Brin, Larry Page, Matt Mullenweg, Mark E. Zuckerberg, dan lainnya, yang muda bergelimang dolar. Di sisi lain, manusia tidak unggul, berjatuhan. Menurut ukuran meritokrasi, they deserve to get it, mengerikan!

Pengetahuan & Kreativitas
Daniel Pink menyebut abad 21 adalah era konseptual. Tata kerja dan cara hidup berubah total. Di sini, otak-otak kreatiflah pencipta dan pendorong utama pertumbuhan ekonomi. Kegagalan melihat ke depan dan terbatasnya kemampuan memahami perubahan merupakan penyebab kematian perusahaan. Lingkungan bergerak semakin kompleks dan otak manusia menjadi begitu berharga. The war of talent, perang dahsyat antar perusahaan yang memperebutkan manusia super. Di sisi lain, tak mungkin lagi manusia bertahan hidup tanpa knowledge.

Richard Florida membagi pekerjaan menjadi 3 kategori. Pekerjaan manufaktur, industri jasa, dan pekerja kreatif. Grafik menunjukkan, pekerja manufaktur menurun drastis akibat kehadiran teknologi. Penurunan juga terjadi di sektor jasa. Tetapi ruang pekerja kreatif justru meningkat tajam. Di Amerika saat ini, pekerja kreatif telah mencapai 30 persen, atau 40 juta orang dan merebut 47 persen kekayaan.

Hubungan kerja berubah sesuai kebutuhan. Kebebasan kerja yang merupakan idaman kaum muda menjadi kenyataan. Pekerja lepas yang sangat produktif hadir di mana-mana. Tak perlu menjadi pegawai, gagasan cemerlang bebas ditawarkan ke mana saja.

Membina karir tidak zaman lagi. Banyak perusahaan melihat, pegawai lama justru menjadi penghambat. Hubungan kerja kian longgar. Hadirnya outsourcing dan sistem kontrak membuat perusahaan lebih memilih hubungan kerja pendek, elastis sesuai sikon. Juga lebih dinamis, efisien dan rendah resiko.

Peradaban Tertinggal
Peta terus bergerak tak tentu arah. Manusia berotak super tersenyum berselancar. Teknologi semakin siap mengganti tenaga manusia. Sementara itu, komposisi tenaga kerja kita kian mencemaskan, 90 persen unskilled worker. Pemerintah tidak berdaya menghadapi tekanan global, pasar dibuka. Pertarungan tak terelakkan, meritokrasi berjalan.

Lihat, harga satu pekerja otak Amerika dapat membeli 10 pekerja otak India. Hukum dagang pun berlaku. Barat ketakutan. Di Belanda, setiap peluang kerja harus untuk orang Belanda. Prioritas kedua, pekerja EU. Bila tetap tidak ada, baru ditawarkan di luar EU. Satu contoh sikap pemerintah yang jelas melindungi rakyatnya.

Tetapi, bagaimana nasib negeri ini? Yang sebagian besar rakyatnya tak mampu mengikuti cara kerja era baru. Dan, dalam ukuran meritokrasi, memang layak tersingkir! Telanjang, tanpa persiapan, berhadapan dengan petarung dunia. Lantas, pemerintah di mana?

Castel meramal, akan muncul dunia ke-4, kelas untuk manusia-manusia tersingkir. Sebaiknya Anda menonton Demolition Man, film tentang manusia yang hidup di gorong-gorong karena tak sanggup menghadapi peradaban baru di permukaan. Tinggal menghitung hari… masih adakah yang bisa kita lakukan bersama? []

19112007, Radar Bogor

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: