sekedar mendokumentasikan apa yang perlu didokumentasikan

Hidup Beradab, Mati pun Berbudaya

In Opini on October 2, 2009 at 3:13 pm

Oleh: Said Aqiel Siradj*

.

DARI perspektif akidah, Islam memperkenalkan konsep keesaan Tuhan. Dan, itu dimulai dari keberadaan Nabi Muhammad di Makkah, di te­ngah masyarakat yang ma­sih jahiliyah yang menga­nut paganisme. Selama 13 tahun, Nabi Mu­hammad bersosialisa­ si di Makkah dengan me­nawarkan prinsip teologi “la ilaha illa Allah”. Di sam­ping secara teologis, bermakna penegasan tidak ada Tuhan yang absolut ke­cuali Allah, pernyataan ke­imanan ini juga memberikan dampak sosial politik. Yaitu, manusia dibangun atas dasar kebersamaan, kebebasan, dan persamaan derajat (“al-musawah bain al-nas”).

Nabi Muhammad lalu hijrah ke Yatsrib. Ia dinamakan Yastrib karena yang
pertama datang dan membangun kota itu adalah seseorang yang bernama Yastrib ibn Laudz ibn Sam ibn Nuh.

Masyarakat Kota Yatsrib cukup ber­agam. Ada sejumlah suku do­­minan yang
mendiami kota itu, yaitu suku Aus, Khazraj, Qainuqa’, Quraidlah, dan Bani
Nadhir.

Penduduknya pun menganut ber­agam agama, yaitu Islam, Ya­hudi, dan sebagian kecil Kristen Najran. Dalam masyarakat Islam sendiri terdapat dua kelom­pok, yaitu kaum imigran (Muhaji­rin) dan warga asli (Anshar).

Pola interaksi yang dibangun Islam sejak awal berupa dinami­sasi yang mengedepan­kan pola “us­wah hasanah”. Yakni, berdasar pada moralitas dan contoh teladan yang baik. Pendekatan moralitas ini menuntut umat Islam untuk selalu menjadi “uswah” atau teladan yang baik bagi lingkungan se­kitarnya. Tak heran jika sejak awal eksis­tensinya di Makkah, umat Islam sudah
akomodatif dan kreatif. Metode “uswah al-hasanah” adalah gerakan beragama yang bersifat “soft power”, yaitu menjunjung tinggi keteladanan, moralitas, pembelaan terhadap kaum duafa”,” dan penegakan hak-hak asasi manusia.

Praksis dakwah Islam ini merupakan bagian dari proses pemba­ngunan moralitas (“itmam al-khu­luq”). Ajaran Islam tidak pernah digunakan untuk melakukan tindakan anarkis, seperti pemaksaan, in­ti­midasi, atau terorisme.

Syariat berasal dari kata “syara’”, ber­arti jalan. Syariat dapat diartikan sebagai jalan kehidupan yang baik, yaitu nilai-nilai agama yang diaplikasikan secara fung­sio­nal dan dalam makna konkret untuk mengarahkan kehidupan ma­nusia. Maka, yang dimaksud sya­riat Islam ada­lah tuntunan Islam yang meliputi segala aspek ke­hidupan manusia. Yakni, mulai moralitas, seruan pada pe­ne­ga­kan hukum, keadilan, mencip­takan kemakmuran, dan upaya mening­katkan sumber daya manusia.

Di masa Nabi Muhammad, sya­riat menampilkan dua aspek da­lam dirinya, yaitu aspek ek­sote­rik dan esoterik. Sisi eksote­rik syariat Islam, seperti kewajib­an puasa, zakat, atau haji baru sempurna ketika kondisi sosial politik serta ekonomi masyarakat Ma­dinah sudah sampai ke situasi stabil dan kukuh. Dari kondisi plural ini lahirlah “Negara Madi­nah”. Konsep Negara Madinah ter­tuang dalam “al-Shahifah “(Piagam Madinah) yang mengan­dung nilai universalitas: keadilan, kebebasan, persamaan hak dan kewajiban, serta perlakuan yang sama di mata hukum.

Dalam Piagam Madinah ini ti­dak di­temukan teks-teks apa pun yang menunjuk­kan superiori­tas simbol-simbol Islam. Se­perti ka­ta “Islam”, “ayat Alquran” atau “syariat Islam”. Kota Yatsrib pun berganti nama menjadi “Madinah”, yang berasal dari kata “ta­maddun”, yang berarti “peradaban”. Maksudnya, kota atau ne­gara yang mencita-citakan tatanan masyarakat berperadaban. Dan, untuk mewujudkannya, Na­bi Muhammad mengembangkan konsep “ukhuwah madaniyah”. Yakni, komitmen bersama untuk hi­dup dalam sebuah kota atau ne­geri yang berperadaban.

Dalam kerangka “ukhuwah” seper­ti ini, masyarakat Madinah betul-betul merasa betah dengan pola penegakan syariat Islam yang dipraktikkan Nabi Muhammad di Madinah. Misalnya, ketika mendengar ada penduduk Madinah beragama Yahudi terbunuh, Nabi Muhammad segera memobilisasi dana masya­rakat untuk kemudian diberikan kepada pihak keluarganya. “”Barang siapa yang membunuh non­muslim, maka ia akan berha­dap­an denganku”,” tegas Nabi.

Melalui pengalaman Nabi Muhammad di Madinah ini, syariat Islam lebih bermakna sebagai upaya untuk saling menghormati dan menghargai, tolong-menolong, cinta tanah air, serta mewujudkan keadilan dan kemakmuran. Dari pengertian inilah, Islam pun dikenal dengan penegakan syariat secara “kaffah”. Dalam Alquran sendiri, tidak kita jumpai kata-kata “umat Islam”. Apalagi, kata-kata “negara Islam”. Alquran lebih me­me­rintahkan untuk membangun “ummat­an wasathan” dan “khoiru ummah”.

Ada lagi aspek “hadlarah” (kebudayaan) dan “tsaqafah” (peradaban). Kita perlu mempertimbangkan aspek ilmu pengetahuan dan peradaban. Maka, di sini berlaku Islam sebagai “din al-’ilm wa al-tsaqafah. “Islam tidak hanya berputar-putar pada persoalan akidah dan syariah yang selama ini sering diperdebatkan dan bahkan menghasilkan tindakan radikalisme agama dan juga terorisme.

Dalam aspek “tsaqafah” dan “hadlarah” ini, Islam mengajar kita bagaimana memberikan pencerahan kepada umat Islam agar kreatif dan produktif. Ketika Islam membangun peradaban di wilayah yang dulu dikenal dengan Andalusia (Spanyol), sejarah menorehkan tinta emas tentang pencapaian-pencapaian yang diraih para ulama dan cendekiawan dari berbagai kalangan penganut agama.

Kebenaran itu adalah milik bersama. Dari mana pun dia berasal, kita akan menerimanya. Ini yang ditunjukkan dalam pe­ngalaman sejarah umat Islam yang mengadopsi, misalnya, bentuk kubah dan menara dalam bangunan masjid. Padahal, kubah berasal dari bentuk bangunan khas Romawi, sementara menara dari Persia. Menara berasal dari kata “manara”, yang berarti tempat perapian orang-orang Majusi.

Dalam bidang ilmu pengetahuan, inter­aksi umat Islam dengan tradisi pengetahu­an Yunani-Romawi dan Persia, melapangkan jalan bagi mereka untuk mem­­bangun peradaban agung di bebe­rapa belahan dunia. Ilmu manthiq atau lo­gika yang menjadi kebanggaan tradisi ke­ilmuan Islam, adalah produk perjumpa­an umat Islam dengan tradisi non-Islam. Ajakan Nabi untuk menuntut ilmu hingga ke negeri China, menjadi pemicu bagi kebangkitan “tsaqafah” dan “hadlarah” di kalangan umat Islam itu.

Islam memang datang dari negeri Arab. Kata “Arab” secara etimologis berarti
menggelinding atau bergerak. Ini mengisyaratkan kalau kehadiran Islam akan
terus bergerak dinamis, bukannya statis atau stagnan.

Jelaslah bahwa “tsaqafah” dan “hadlarah” akan terbangun dari manusia-manusia yang aktif dan produktif. Dan, di situlah hikmah manusia diciptakan. Dia akan belajar, mencari, dan memetik pelajaran dan kebenaran dari mana pun asalnya. Dua aspek ini yang kerap dilupakan, sehingga membuat umat Islam ketinggal­a­n dalam kompetisi membangun peradaban dewasa ini. Saya istilahkan umat Is­lam sebenarnya “nonmuslim” dalam bi­dang “tsaqafah” dan “hadlarah”. Sedangkan orang-orang Barat adalah “nonmuslim” dalam bidang akidah dan syariah.

[]

*Said Aqiel Siradj, ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (NU)
2 Oktober 2009

PEMULUNG NAIK KRL UNTUK MENGUBUR ANAKNYA

In Berita on July 10, 2009 at 3:56 am

PEJABAT Jakarta seperti ditampar. Seorang warganya harus menggendong mayat anaknya karena tak mampu sewa mobil jenazah. Penumpang kereta rel listrik (KRL) jurusan Jakarta – Bogor pun geger Minggu (5/6). Sebab, mereka tahu bahwa seorang pemulung bernama Supriono (38 thn) tengah menggendong mayat anak, Khaerunisa (3 thn). Supriono akan memakamkan si kecil di Kampung Kramat, Bogor dengan menggunakan jasa KRL.

Tapi di Stasiun Tebet, Supriono dipaksa turun dari kereta, lantas dibawa ke kantor polisi karena dicurigai si anak adalah korban kejahatan. Tapi di kantor polisi, Supriono mengatakan si anak tewas karena penyakit muntaber. Polisi belum langsung percaya dan memaksa Supriono membawa jenazah itu ke RSCM untuk diautopsi.

Di RSCM, Supriono menjelaskan bahwa Khaerunisa sudah empat hari terserang muntaber. Dia sudah membawa Khaerunisa untuk berobat ke Puskesmas Kecamatan Setiabudi. “Saya hanya sekali bawa Khaerunisa ke puskesmas, saya tidak punya uang untuk membawanya lagi ke puskesmas, meski biaya hanya Rp 4.000,- saya hanya pemulung kardus, gelas dan
botol plastik yang penghasilannya hanya Rp 10.000,- per hari,” ujar bapak 2 anak yang mengaku tinggal di kolong perlintasan rel KA di Cikini itu. Supriono hanya bisa berharap Khaerunisa sembuh dengan sendirinya. Selama sakit Khaerunisa terkadang masih mengikuti ayah dan kakaknya, Muriski Saleh (6 thn), untuk memulung kardus di Manggarai hingga Salemba, meski hanya terbaring digerobak ayahnya.

Karena tidak kuasa melawan penyakitnya, akhirnya Khaerunisa menghembuskan nafas terakhirnya pada Minggu (5/6) pukul 07.00. Khaerunisa meninggal di depan sang ayah, dengan terbaring di dalam gerobak yang kotor itu, di sela-sela kardus yang bau. Tak ada siapa-siapa, kecuali sang bapak dan kakaknya. Supriono dan Muriski termangu. Uang di saku tinggal Rp 6.000,- tak mungkin cukup beli kain kafan untuk membungkus mayat si kecil dengan layak, apalagi sampai harus menyewa ambulans. Khaerunisa masih terbaring di gerobak. Supriono mengajak Musriki berjalan menyorong gerobak berisikan mayat itu dari Manggarai hingga ke Stasiun Tebet, Supriono berniat menguburkan anaknya di kampong pemulung di Kramat, Bogor. Ia berharap di sana mendapatkan bantuan dari sesama pemulung.

Pukul 10.00 yang mulai terik, gerobak mayat itu tiba di Stasiun Tebet. Yang tersisa hanyalah sarung kucel yang kemudian dipakai membungkus jenazah si kecil. Kepala mayat anak yang dicinta itu dibiarkan terbuka, biar orang tak tahu kalau Khaerunisa sudah menghadap Sang
Khalik. Dengan menggandeng si sulung yang berusia 6 thn, Supriono menggendong Khaerunisa menuju stasiun.

Ketika KRL jurusan Bogor datang, tiba-tiba seorang pedagang menghampiri Supriono dan menanyakan anaknya. Lalu dijelaskan oleh Supriono bahwa anaknya telah meninggal dan akan dibawa ke Bogor spontan penumpang KRL yang mendengar penjelasan Supriono langsung
berkerumun dan Supriono langsung dibawa ke kantor polisi Tebet. Polisi menyuruh agar Supriono membawa anaknya ke RSCM dengan menumpang ambulans hitam.

Supriono ngotot meminta agar mayat anaknya bisa segera dimakamkan. Tapi dia hanya bisa tersandar di tembok ketika menantikan surat permintaan pulang dari RSCM. Sambil memandangi mayat Khaerunisa yang terbujur kaku.

Hingga saat itu Muriski sang kakak yang belum mengerti kalau adiknya telah meninggal masih terus bermain sambil sesekali memegang tubuh adiknya.

Pukul 16.00, akhirnya petugas RSCM mengeluarkan surat tersebut, lagi-lagi karena tidak punya uang untuk menyewa ambulans, Supriono harus berjalan kaki menggendong mayat Khaerunisa dengan kain sarung sambil menggandeng tangan Muriski. Beberapa warga yang iba memberikan
uang sekadarnya untuk ongkos perjalanan ke Bogor. Para pedagang di RSCM juga memberikan air minum kemasan untuk bekal Supriono dan Muriski di perjalanan.

Psikolog Sartono Mukadis menangis mendengar cerita ini dan mengaku benar-benar terpukul dengan peristiwa yang sangat tragis tersebut karena masyarakat dan aparat pemerintah saat ini sudah tidak lagi perduli terhadap sesama. “Peristiwa itu adalah dosa masyarakat yang
seharusnya kita bertanggung jawab untuk mengurus jenazah Khaerunisa. Jangan bilang keluarga Supriono tidak memiliki KTP atau KK atau bahkan tempat tinggal dan alamat tetap. Ini merupakan tamparan untuk bangsa Indonesia,” ujarnya.

Koordinator Urban Poor Consortium, Wardah Hafidz, mengatakan peristiwa itu seharusnya tidak terjadi jika pemerintah memberikan pelayanan kesehatan bagi orang yang tidak mampu. Yang terjadi selama ini, pemerintah hanya memerangi kemiskinan, tidak mengurusi orang miskin
kata Wardah. []

Warta Kota, 2005

Hilangnya Peluang Kerja

In Opini on July 9, 2009 at 4:09 pm

Ario Djatmiko, Staf Pengajar Fakultas Kedokteran UNAIR

AIRPORT adalah wajah satu negara. Padatnya lalu lintas internasional menunjukkan posisi ekonomi negara di mata dunia. Kalau jeli, Anda akan melihat setiap airport selalu berkembang dinamis. Yang mencolok, Duty Free Shops bukan tempat favorit lagi. Di mana-mana terlihat manusia tekun menghadapi komputer tanpa bicara. Sunyi!

Artinya, lalu lintas bisnis berputar dengan kecepatan tak terbayangkan, tanpa henti, tidak mengenal tempat dan waktu. Benar, don’t ever blink your eyes, the opportunity will past. Manusia jenis apakah yang mampu berselancar di arus bisnis yang mengerikan ini?

Manusia vs Teknologi
Perkembangan teknologi tak dapat dibendung. Pertarungan manusia melawan mesin untuk berebut kerja tak terelakkan. Tom Peters menghitung, pada 1970-an, unloading satu kapal memerlukan 108 pekerja dan lima hari kerja. Saat ini, cukup delapan orang dan satu hari kerja.

Teknologi menang. Containerization menyingkirkan 98.5 persen tenaga manusia. Pasar global butuh aturan main yang jelas dan standar global. Produktivitas kerja—standar, efisiensi dan efektivitas—diukur dalam time and money. Tampaknya, pekerja otot semakin tidak punya tempat di bumi ini.

Tom Peters juga melihat 90 persen pekerjaan white collar terancam hilang. Manufaktur dan back office terus mencari tempat dan cara yang lebih murah, outsourcing. Tiongkok dan India mengancam kehidupan pekerja analisis Barat. Automatisasi masuk ruang analisis.

Daniel Pink (2006) mencatat, 21 juta orang di Amerika telah mengganti pekerjaan akuntan dengan software sederhana. Terjadi herd-principle, tenaga terampil bergerak layaknya kelompok hewan yang terus berpindah mencari lahan subur. Tidak ada lagi pekerjaan yang aman di dunia ini. Pemimpin Intel, Craig Barret menulis di The Economist, “Saya ketakutan memikirkan nasib anak-cucu saya”.

Era Keserakahan
Tentang survival, Charles Darwin mengingatkan, it’s not the strongest of the species who survive, nor the most intelligent… but the most responsive to change.

Iklim akan menentukan tata nilai, dasar berpikir, dan cara pandang manusia. Kita tak dapat mengelak, hanya iklim kapitalisme dan neoliberalisme-lah yang ada saat ini.

Dalam bukunya, The Flight of The Creative Class, Richard Florida menulis sebuah dogma, greed is good. Keserakahan mendorong manusia mengejar uang tanpa batas. Mendorong orang bekerja keras, mendorong terjadinya ledakan teknologi, terus mencipta, dan seterusnya.

Setiap manusia akan memaksimalkan kegunaan miliknya dan otomatis menjadi penjaga pasar agar berjalan efisien. Greed, in other words, is the sin qua non of the creation of wealth, the fuel that drives our economic engine.

Tentang kapitalis, Robert P. Murphy mengatakan, tidak ada sistem lain yang lebih sukses meningkatkan derajat hidup manusia. Kebebasan memilih, proses jual-beli produk yang sehat menggiring kita menemukan nilai tertinggi yang kita ingingkan.

Tenaga kerja pun dikemas menjadi barang dagangan. Pertimbangan dalam membeli tenaga kerja hanyalah nilai tambah ekonomi si pekerja, bukan ikatan solidaritas, bukan pula primordial, apalagi rasa kasihan. Meritokrasi efektif menghasilkan tenaga unggul, tetapi dapat berakibat sangat kejam.

Kompetisi adalah “agama” baru di bumi ini. Lalu, lahirlah manusia-manusia berotak super. Arus mengerikan itu juga membawa peluang. Hanya si otak super-lah yang mampu menangkap peluang tersebut.

Muncul kisah sukses Sergey Brin, Larry Page, Matt Mullenweg, Mark E. Zuckerberg, dan lainnya, yang muda bergelimang dolar. Di sisi lain, manusia tidak unggul, berjatuhan. Menurut ukuran meritokrasi, they deserve to get it, mengerikan!

Pengetahuan & Kreativitas
Daniel Pink menyebut abad 21 adalah era konseptual. Tata kerja dan cara hidup berubah total. Di sini, otak-otak kreatiflah pencipta dan pendorong utama pertumbuhan ekonomi. Kegagalan melihat ke depan dan terbatasnya kemampuan memahami perubahan merupakan penyebab kematian perusahaan. Lingkungan bergerak semakin kompleks dan otak manusia menjadi begitu berharga. The war of talent, perang dahsyat antar perusahaan yang memperebutkan manusia super. Di sisi lain, tak mungkin lagi manusia bertahan hidup tanpa knowledge.

Richard Florida membagi pekerjaan menjadi 3 kategori. Pekerjaan manufaktur, industri jasa, dan pekerja kreatif. Grafik menunjukkan, pekerja manufaktur menurun drastis akibat kehadiran teknologi. Penurunan juga terjadi di sektor jasa. Tetapi ruang pekerja kreatif justru meningkat tajam. Di Amerika saat ini, pekerja kreatif telah mencapai 30 persen, atau 40 juta orang dan merebut 47 persen kekayaan.

Hubungan kerja berubah sesuai kebutuhan. Kebebasan kerja yang merupakan idaman kaum muda menjadi kenyataan. Pekerja lepas yang sangat produktif hadir di mana-mana. Tak perlu menjadi pegawai, gagasan cemerlang bebas ditawarkan ke mana saja.

Membina karir tidak zaman lagi. Banyak perusahaan melihat, pegawai lama justru menjadi penghambat. Hubungan kerja kian longgar. Hadirnya outsourcing dan sistem kontrak membuat perusahaan lebih memilih hubungan kerja pendek, elastis sesuai sikon. Juga lebih dinamis, efisien dan rendah resiko.

Peradaban Tertinggal
Peta terus bergerak tak tentu arah. Manusia berotak super tersenyum berselancar. Teknologi semakin siap mengganti tenaga manusia. Sementara itu, komposisi tenaga kerja kita kian mencemaskan, 90 persen unskilled worker. Pemerintah tidak berdaya menghadapi tekanan global, pasar dibuka. Pertarungan tak terelakkan, meritokrasi berjalan.

Lihat, harga satu pekerja otak Amerika dapat membeli 10 pekerja otak India. Hukum dagang pun berlaku. Barat ketakutan. Di Belanda, setiap peluang kerja harus untuk orang Belanda. Prioritas kedua, pekerja EU. Bila tetap tidak ada, baru ditawarkan di luar EU. Satu contoh sikap pemerintah yang jelas melindungi rakyatnya.

Tetapi, bagaimana nasib negeri ini? Yang sebagian besar rakyatnya tak mampu mengikuti cara kerja era baru. Dan, dalam ukuran meritokrasi, memang layak tersingkir! Telanjang, tanpa persiapan, berhadapan dengan petarung dunia. Lantas, pemerintah di mana?

Castel meramal, akan muncul dunia ke-4, kelas untuk manusia-manusia tersingkir. Sebaiknya Anda menonton Demolition Man, film tentang manusia yang hidup di gorong-gorong karena tak sanggup menghadapi peradaban baru di permukaan. Tinggal menghitung hari… masih adakah yang bisa kita lakukan bersama? []

19112007, Radar Bogor